You are currently browsing the monthly archive for September 2007.

 

Oleh: Sigit Harsanto

GENAP 35 hari sejak malam pemberian anugerah Festival Film Banyumas (FFB) yang digelar untuk kali pertama. Selama itu, Bikin Film Production (BFP) yang membuat film “Kenapa Ful” dan Komunitas Jurnalis Televisi Purwokerto (KJTP) sebagai penyelenggara, belum juga menyadari kekhilafannya. Para pegiat film yang mengetahui bahwa telah terjadi kekeliruan fatal dalam ajang ini, hanya berani bisik-bisik di belakang panggung.

Mereka barangkali begitu tak enak hati menyinggung perasaan KJTP, sehingga tak berani mengkoreksi. Misalnya, seperti kita ketahui, melalui press-release di beberapa media cetak KJTP pernah mengancam memboikot Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga agar tidak bisa ikut dalam event perfilman yang diadakan seluruh stasiun di negeri ini. Semua bermula tatkala CLC menyatakan tak bisa mengikuti FFB, karena saat itu tengah berkonsentrasi pada rangkaian workshop pelajar SMA di Purbalingga.

Saat saya menulis ini, stasiun Trans7 telah memastikan untuk menayangkan program Fenomena, Jumat 27 Juli pukul 23.30. Tapi bukan untuk menyiarkan pernyataan KJTP yang gembar-gembor hendak memboikot CLC dan film Banyumas. Sebaliknya, stasiun televisi itu malah menampilkan betapa riangnya para sineas Purbalingga membuat film di bawah payung CLC. Kesimpulannya, ancaman KJTP terdahulu itu hanyalah bagian dari perang urat syaraf yang wajar terjadi di kalangan politikus, namun sudah tentu sangat abnormal dan menggelikan bagi kalangan seniman, termasuk film. Read the rest of this entry »

Oleh: Dimas Jayasrana

Kalau kita bicara tentang komunitas film di Indonesia, mungkin pertanyaan pertama yang menarik untuk dimunculkan adalah; ada dimana posisi serta peran komunitas film dalam konstelasi perfilman Indonesia? Semenjak booming kelahirannya generasi baru diujung tahun 90an, komunitas film tampaknya menjadi entitas tersendiri dalam wacana perfilman Indonesia. Ia ada namun dianggap tak ada; semacam bayang-bayang dalam situasi yang juga sama gelapnya dilevel lain seperti industri perfilman Indonesia itu sendiri.

Fenomena kemunculannya tidak disertai dengan pembacaan wacana yang berlangsung didalamnya. Komunitas film yang tersebar diberbagai pelosok Indonesia merupakan anak perubahan jaman yang terjadi di Indonesia, utamanya paska pemerintahan orde baru. Perubahan politik yang disertai liberalisasi teknologi adalah salah satu faktor yang dominan. Kalau kita mau petakan secara kasar, jenis komunitas film bisa dibagi menjadi 3 jenis; studi, eksebisi, dan produksi sebagai kelompok mayoritas. Ada juga yang merupakan campuran diantara ketiga jenis tersebut.

Bila dirunut dari kelahirannya sampai dengan pola bentuknya sekarang, komunitas film lebih merupakan satu bentuk anarkisme; artinya ia memang lahir untuk mencoba melawan struktur kuasa yang ada. Ia akan sulit untuk diikat dalam satu struktur yang baku terlebih bila hendak dimasukan dalam satu sistem birokrasi tertentu. Anarkisme inilah yang sesungguhnya membawa komunitas film menjadi satu entitas yang penting. Mengapa? Mari kita lihat berbagai kegiatan yang dilakukan oleh banyak komunitas film di Indonesia. Read the rest of this entry »

Oleh:  Muhammad Noer Rohmen

DUA bersaudara Lumiere Louis (1864-1948) dan Auguste (1862-1954) mungkin tak menyangka jika ulah mereka, mempertontonkan “citra bergerak” untuk khalayak umum dengan membayar (paying audiences), di Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis pada 28 Desember 1895 akan melahirkan dunia baru. Meskipun usaha mempublikkan citra bergerak ini sendiri sudah dimulai jauh sebelum tahun 1895, bahkan sejak tahun 130 masehi, namun dunia internasional mengakui bahwa peristiwa di Grand Cafe inilah yang menandai lahirnya film di dunia.

Lalu yang lain menyusul, Thomas A. Edison menyelenggarakan bioskop di New York pada 23 April 1896. Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Sovyet (Mei 1896), Jepang (1896-1897), Korea (1903) dan di Italia (1905). Read the rest of this entry »

Oleh: Moehammad Noer Rohmen

“Besok hari Rebo 5 Desember Pertoenjoekan Besar Yang Pertama di dalam satoe roemah di Tanah Abang, Kebondjae (menage) moelai Poekoel Toedjoe malem. Harga tempat klas satoe f2, klas doewa f1, klas tiga f0,50.” (Iklan SK Bintang Betawi, 4 Desember 1900)

“Amerika kita setrika! Inggris kita linggis!” kata Soekarno dengan lantang. Maka, film-film Hollywood hilang di pasaran. Dan Koes Plus masuk bui. Budaya dari dua negeri barat itu tak diijinkan untuk berkembangbiak di Indonesia. Namun di sisi lain, Soekarno masih memperbolehkan Guntur, anaknya, untuk tetap main band dengan musik ngak-ngik-ngok. Soekarno juga mengaku, sempat melihat film-film yang oleh letnannya dimasukkan dalam daftar cekal, karena disinyalir tak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Sejarah film Indonesia adalah sejarah ketertiban. Baik ketertiban yang dikehendaki penguasa ataupun ketertiban yang diinginkan kaum mayoritas-kuasa. Di Indonesia sendiri, film pertama kali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta), lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Perancis. Pada masa itu film disebut “Gambar Idoep”. Film pertama di Indonesia ini adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag. Read the rest of this entry »

Oleh: Dimas Jayasrana

I.

Sejarah adalah sesuatu yang dibuat, ia tidak hadir begitu saja dan menampilkan dirinya sebagai kebenaran tunggal. Soal versi mana yang benar, itu adalah persoalan klaim kuasa atas sejarah tersebut. Peperangan atas banyak versi sejarah sebagai pertarungan kuasa memunculkan yang konon oleh Thomas Kuhn disebut sebagai situasi anomali. Situasi anomali ini adalah ajang perebutan kuasa atas sejarah. Siapa yang menguasai masa lalu, maka dia menguasai hari ini. Siapa yang mengusai hari ini, maka dia menguasai masa depan. Konon begitu adanya.

Maka banyak orang menghujat Suharto karena beliau dengan kroni-kroninya dianggap membelokan sejarah bangsa ini agar kekuasaannya langgeng. Sejarah bangsa dari A sampai Z konon beliau ceritakan ulang menurut versinya sehingga orang Indonesia mengalami gejala skizoprenia akut. Lupa akan sejarahnya, lupa akan identitasnya, lupa akan masa depannya. Ketika kekuasaan Suharto diruntuhkan, tiba-tiba tidak ada lagi dominasi atas sejarah tersebut, maka muncullah banyak versi sejarah bangsa ini yang kita anggap baru, bahkan ada beberapa yang hingga saat ini masih diperdebatkan keabsahannya. Lebih celakanya lagi, entah karena kebiasaan lupa, malas, atau takut, catatan-catatan sejarah pun minim jumlahnya. Read the rest of this entry »

Jaringan Kerja Film Banyumas

Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) adalah lembaga asosiasi komunitas film di eks-karisidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Visi JKFB adalah menjadi lembaga fasilitator dan mediator dalam mengembangkan serta memajukan kegiatan perfilman di eks-karisidenan Banyumas melalui program kegiatannya. Misi JKFB adalah melakukan kerja kolektif serta jaringan dalam berbagai aspek yang dapat memajukan kegiatan perfilman di eks-karisidenan Banyumas.

c

Blog Stats

  • 20,639 hits