You are currently browsing the monthly archive for December, 2007.
”Televisi adalah sastra rakyat hari ini,” kata Garin Nugroho. Bila saat dimulainya revolusi Gutenberg, buku dinamai sebagai jendela dunia, peran itu kini telah diambilalih oleh televisi. Dan televisi sangat membutuhkan produksi beragam jenis tayangan, satu diantaranya sajian film. Akan tiba waktunya, film-film produksi berbagai komunitas lokal menghiasi layar kaca, berderet bersama film impor.
Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 ‘toh’ telah menetapkan sistem televisi jaringan yang mematok kian banyak tayangan lokal. Sehingga tentu membanggakan jika anak-anak muda yang lahir dari rumpun kebudayaan Banyumasan sudah mendahului jaman dengan memperkenalkan kategori Film Banyumas kepada publik. Setidaknya di tingkat nasional, dengan jumlah keikutsertaan festival film mencapai puluhan, film Banyumas tak luput dari perhatian.
Komunitas film yang secara samar mulai muncul di Purwokerto tahun 1999, kini telah menjadi jamak di Kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Cilacap dan Banjarnegara, dengan jumlah komunitas yang lebih sedikit pun tak jemu-jemunya menggelar kegiatan. Keikutsertaan sineas Purbalingga pada Festival Film Eropa, dan undangan untuk Komunitas Sangkanparan dan sineas SMA 1 Cilacap di ajang Pusat Kebudayaan Prancis, menandai langkah maju di lingkungan penikmat film internasional. Read the rest of this entry »
Berbarengan dengan penggelindingan wacana postmodernisme, realitas multikulur tak lagi sekadar hadir di ruang-ruang seminar. Film yang tadinya identik dengan ekspresi eksklusif masyarakat urban perkotaan diadopsi pula oleh masyarakat yang secara kultural “sangat” terpencil. Realitas itu dipermudah oleh teknologi digital yang makin murah dan beragam. Untuk membuat film, misalnya, orang hanya butuh satu handycam dan laptop. Dengan sedikit penguasaan teknik, film yang disimpan dalam cakram CD sudah bisa diputar dari dusun ke dusun, bahkan sampai ke Eropa.
Pada subkultur Jawa, seperti eks-Karesidenan Banyumas yang meliputi wilayah Cicalap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, sejak tahun 2001 sudah terdapat aktivitas komunitas penikmat dan pembuat film-film pendek. Bahkan, pada 7 Desember lalu, Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) membuat festival bernama Karnaval Film Pendek Banyumas. Di situ tidak saja ditampilkan film-film pendek lokal karya mereka, tetapi juga mendatangkan langsung film-film dari Eropa. “Kami impor langsung dari Eropa dengan maksud membuat perbandingan bagi pekerja film lokal,” ujar Direktur JKFB Sigit Harsanto, Kamis (13/12). Read the rest of this entry »
Putu Fajar Arcana KOMPAS Minggu, 16 Desember 2007
Siapa pernah menyangka jika di satu wilayah yang dianggap jauh dari jamahan industri budaya pop meluncur sebuah festival film. Karnaval Film Pendek Banyumas 2007 pada 7 Desember lalu, yang memutar film-film karya para pekerja film asal Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, seperti menjadi wahana baru menyatakan diri.
Direktur Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) Sigit Harsanto menuturkan, sebagian besar film-film yang diproduksi di wilayah mereka berangkat dari realitas kultural lokal yang khas dan unik. “Hampir semua menggunakan bahasa Banyumasan,” ujar Sigit. Film-film itu diputar berdampingan dengan film-film produksi Eropa dari desa ke desa. Jika kebanyakan orang menyebut istilah layar tancep untuk menonton film, di wilayah sekitar Banyumas disebut komidi sorot. “Penontonnya bisa ratusan, bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan pemutaran di kampus,” kata Sigit.
Dalam waktu yang nyaris berbarengan digelar pula festival-festival film dalam skala lebih besar dan mapan, seperti Jakarta International Film Festival (JiFFest), Festival Film Indonesia (FFI) di Riau, dan Festival Film Dokumenter (FFD) di Yogyakarta. Sebelumnya juga sudah digelar Jogja- NETPAC Asian Film Festival di Yogyakarta, Festival Film Asia Afrika, Queer Film Festival, dan LA Light Indie Movies di beberapa kota. Bahkan, jaringan bioskop teranyar Blitzmegaplex merasa perlu melakukan hal sama. Mereka, misalnya, menggelar Screamfest Indonesia, Festival Film Fantastik, dan Festival Film Korea. Read the rest of this entry »
Pada hari Jumat 7 Desember 2007 bertempat di Gedung Soemardjito Unsoed Purwokerto, Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) mengadakan Karnaval Film Pendek Banyumas 2007 dengan tagline “film itu sexy”. Acara dimulai pukul 14.15 WIB dengan diantarkan pembawa acara Willy E. Christian yang disusul dengan sambutan pembukaan oleh Sari Handayani selaku Project Officer Karnaval Film Pendek Banyumas 2007. Dalam sesi pembukaan, hadir kurang lebih 100 audiens yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat Banyumas. Setelah sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pawai Film Perancis pada pukul 14.30 WIB hingga pukul 15.30 WIB. Dalam sesi pawai film Perancis diputar empat film pilihan dari Perancis yaitu La Traverse, Treinta Anos, Pacotille, dan Omnibus. yang menyuguhkan cerita dramatis mengenai kehidupan. Dari hal sepele sampai persoalan politik yang membawa mimpi buruk.
Acara dilanjutkan dengan sesi temu penggiat film pendek Banyumas yang menghadirkan T. Lintang G., Ahsan Andrian (perwakilan Konfiden) serta Insan Indah Pribadi (perwakilan JKFB) dengan moderator Trisnanto (Cinema Lovers Community, Purbalingga). Sesi ini dimulai kurang lebih pukul 15.40 WIB hingga pukul 17.00 WIB dengan dihadiri kurang lebih 41 orang tamu undangan dari berbagai komunitas yang ada di Banyumas. Dalam sesi temu penggiat, diangkat permasalahan seputar komunitas film di Banyumas dan eksistensinya. Pada diskusi ini para penggiat film saling bertukar pengalaman dan informasi dengan teman-teman dari Konfiden dan JKFB terkait dengan komunitas film pendek, lengkap dengan permasalahan yang kerap bermunculan dalam komunitas. Dari sesi ini didapat beberapa kesimpulan yang secara garis besar mengharapkan komunitas film di Banyumas tidak menjadi menara gading dan kebutuhan agar komunitas film pendek lebih merakyat. Selepas sesi temu penggiat film, acara memasuki waktu break selama lebih kurang dua jam. Read the rest of this entry »
Release
KARNAVAL FILM PENDEK BANYUMAS 2007
Gd. Soemardjito Unsoed, Purwokerto, Jawa Tengah
Jumat 7 DESEMBER 2007
Setelah sekian lama absen dari helatan besar yang sempat rutin beberapa waktu. Sekumpulan pegiat perfilman dari Purbalingga, Banyumas dan Cilacap yang tergabung dalam Jaringan Kerja Banyumas (JKFB), kini mencoba menghidupkan kembali aura kerinduan akan kegiatan-kegiatan bernuansa film.
Mengambil momen Festival Kebudayaan Banyumas, Dewan Kesenian kabupaten Banyumas (DKKB) dan Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB), melangkah keperwujudan nyata dengan menggelar Karnaval Film Pendek Banyumas pada hari Jum’at, 7 Desember 2007 di Gedung Soemardjito, Purwokerto, Jawa Tengah dengan tema “Film Itu Seksi”.
Helatan akbar ini rencananya akan berlangsung dari siang, pukul 14.00 W.I.B., hingga malam. Selain menyuguhkan menu utama, film pendek kreativitas putra-putri daerah seperti Purbalingga, Banyumas dan Cilacap, karnaval ini juga menghadirkan film-film pendek yang langsung diboyong dari Peraih Penghargaan Festival Film Pendek (FFP) Konfiden, Jakarta, serta diimport langsung dari Eropa. Bukan maksud membanding-bandingkan, walau perlu, namun semata untuk referensi bagi pegiat film pendek lokal Banyumas. Tidak hanya itu, rencananya akan ada sesi temu pegiat film pendek, khususnya bagi mereka yang berdomisili di daerah Eks-Karisidenan Banyumas. Read the rest of this entry »



Recent Comments