You are currently browsing the monthly archive for July, 2008.
Selama ini belum ada sebuah peraturan kode etik dalam melakukan pemutaran film non bioskop di Indonesia. Pelanggaran kode etik seringkali terjadi karena kebanyakan komunitas film/pihak pemutar tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hal tersebut. Setidaknya hal tersebut kerap terjadi di Banyumas.
Menurut Sigit Andreas Harsanto, direktur Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB), banyak komunitas film atau kelompok lainnya mengadakan acara pemutaran film tanpa meminta ijin kepada pembuat/pemilik film yang filmnya diputar dalam acara tersebut.
Bahkan banyak diantara mereka mengenakan tiket masuk kepada penonton dan si pemilik film tidak pernah mendapatkan pemberitahuan, apalagi haknya dari pemasukan yang didapatkan, ujar Sigit. Read the rest of this entry »
Oleh : Sihar Sinomae
Saya mengikuti ‘kuliah’ Sandeep Ray, pegiat film asal India yang memilih jalur film dokumenter ketimbang Bolywood. ‘Kuliah’ berbahasa Inggris yang digelar di Benteng Vendeburg, Yogyakarta akhir pekan lalu itu memberi wawasan mengapa dokumenter menjadi menarik untuk ditekuni. Sandeep membuat dokumenter, termasuk untuk kepentingan pendidikan dan berbagai perusahaan (www.sandeepray. com).
Dia bisa bekerja bersama dalam sebuah tim produksi film. Namun sering dia menjadi sutradara, kameramen dan sekaligus editor film seorang diri. Gurun Kalahari di Afrika, Irak hingga dataran Australia dijelajahinya untuk mendapatkan tema-tema terbaik. Berikut petikan kuliah yang dirubah dalam format wawancanda.
Ini wawancanda. Karya yang sedang kamu garap saat ini?
Saya dari Kalimatan Timur, melihat Sungai Mahakam sampai persoalan kebakaran hutan. Namun saya baru saja mengambil keputusan untuk menyelesaikan film dokumenter yang saya buat selama 17 tahun terakhir. Bila saya teruskan kesenangan merekam kehidupan seseorang itu, saya tidak tahu kapan film itu akan jadi.
Dokumenter tentang apa itu?
Saya mulai mengambil gambar sejak tahun 1991. Tentang seorang anak muda yang bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal di India, dan kini menjadi seorang guru. Ada keindahan dalam dokumenter, termasuk yang mengangkat hal-hal yang sekilas tampak biasa. Itu terutama pada setiap perasaan antarmanusia yang bisa direkam kamera.
Read the rest of this entry »
Oleh : Sihar Sinomae
KLOTER kedua pegiat film Banyumas yang ‘nyantrik’ di ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2008, pulang kandang kemarin. Mereka adalah Sari Handayani (Purwokerto) , Budiningrum Tri Ambarwati (Purwokerto) , Muhammad Febrianto (Purbalingga) dan Dadang (Banjarnegara) . Para penerima beasiswa belajar dari Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) itu sekaligus memamerkan film-film Banyumas dalam sesi ‘Ngapak Attack’. Berikut kutipan laporan perjalanan melalui komandan mereka, Sari Handayani.
Kalian ikut workshop untuk jenis profesi yang masih jarang ada di Indonesia… .
Ya. Kami ikut sesi workshop programer perfilman. Profesi ini selain jarang, juga masih belum banyak diketahui orang awam. Kami berbagi pengalaman dengan dipandu Elida Tamalagi dari Kinoki Yogyakarta. Model pembelajarannya ‘open method’ banget. Artinya, siapa yang nggak aktif nggak bakal dapat ilmu. Ini pengalaman berharga untuk meningkatkan kemampuan manajemen organisasi seni di Banyumas.
Apa sih programmer itu?
Programer bukan event organizer. EO hanya fokus pada kemasan acara dan berorientasi pada keuntungan. Ini yang banyak di Banyumas. Para programer mengemban misi edukasi masyarakat melalui program yang dijalankan komunitas kesenian. Sederhananya, profesi programmer adalah otak dari event seni budaya. Yang terjadi selama ini, program seni dan budaya dikerjakan dengan asal punya ide. Tanpa indikator dan parameter untuk mengukur keberhasilan.
Read the rest of this entry »

Recent Comments