You are currently browsing the category archive for the 'Uncategorized' category.

Selama ini belum ada sebuah peraturan kode etik dalam melakukan pemutaran film non bioskop di Indonesia. Pelanggaran kode etik seringkali terjadi karena kebanyakan komunitas film/pihak pemutar tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hal tersebut. Setidaknya hal tersebut kerap terjadi di Banyumas.

Menurut Sigit Andreas Harsanto, direktur Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB), banyak komunitas film atau kelompok lainnya mengadakan acara pemutaran film tanpa meminta ijin kepada pembuat/pemilik film yang filmnya diputar dalam acara tersebut.

Bahkan banyak diantara mereka mengenakan tiket masuk kepada penonton dan si pemilik film tidak pernah mendapatkan pemberitahuan, apalagi haknya dari pemasukan yang didapatkan, ujar Sigit. Read the rest of this entry »

Festival Film Pendek Konfiden 2008 (FFPK 2008), Yayasan Konfiden untuk ketiga kalinya menggelar kompetisi film pendek Indonesia. Sebuah festival film yang ikut melangkah dalam perjalanan panjang perkembangan film pendek Indonesia. Sebuah festival yang hendak memperkaya pemahaman atas wacana aktual dalam konteks ke-Indonesia-an lewat media film pendek

Ini bukan tugas yang mudah bagi Konfiden, baik dalam berusaha menjaga festival ini tetap hidup maupun terus mengajak para pembuat film pendek Indonesia untuk membuat karya yang lebih baik lagi, jelas Lintang, manajer festival. Kami menyadari masih banyak kekurangan disana-sini dalam penyelenggaraan festival tahun sebelumnya, tapi kami akan terus memperbaikinya hingga pada titik yang paling ideal dalam penyelenggaraan festival ini. Read the rest of this entry »

PURBALINGGA- Pemkab akan menata kebijakan terkait pemberian dukungan terhadap perkembangan film Purbalingga yang telah meraih prestasi internasional. Wakil Bupati Purbalingga, Heru Sudjatmiko menyatakan hal itu ditengah-tengah persiapan Purbalingga Film Festival (PFF), kemarin. Bila memang selama ini Pemkab dinilai belum dan atau tidak memadai dalam memberikan dukungan, maka memang perlu penataan kebijakan. ”Ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Kalangan pemerintahan perlu diberi pencerahan dan saya optimis itu bisa dilakukan,” ungkapnya, kemarin.

Prestasi anak-anak muda telah membuat masyarakat bangga ditengah persoalan himpitan ekonomi dan persoalan lainnya. Wabub berharap, meski keadaan belum memadai, perfilman tetap dilanjutkan sebab prestasi mereka akan menjadi motivasi kelompok lain di Purbalingga untuk berprestasi di segala bidang. ”Jangan berhenti. Inilah kelebihan anak muda yang berani menerobos dan menciptakan inovasi baru. Ini juga menarik sekali karena meskipun kota kecil bisa mengadakan festival, ” imbuhnya. Read the rest of this entry »

PURBALINGGA- Sineas muda Purbalingga diminta jangan menyerah meski dukungan dari pemerintah daerah bagi perkembangan perfilman lokal masih setengah-setengah.

Pernyataan itu dikemukakan oleh Ketua Komisi B DPRD Purbalingga, Hartoyo dimintai tanggapan menjelang persiapan Purbalingga Film Festival (PFF) 2008.  Ajang akbar yang mempertemukan komunitas film di Tanah Air itu digelar secara gratis di Stadion Mahesa Djenar, 16-18 Mei mendatang. ”Sebagai wakil rakyat, kami berharap agar insan film Purbalingga terus berjuang. Rintangan selalu ada, tapi jangan menyerah,” katanya, kemarin.

Hartoyo menambahkan, setidaknya wakil bupati Purbalingga secara lisan menyatakan akan hadir di ajang tersebut. Sehingga kemungkinan Pemkab juga bisa bekerja sama dengan sineas muda di masa mendatang. ”Saya mengetahui persoalan terbatasnya fasilitas yang diberikan oleh Pemkab di masa lalu. Saya berharap di masa mendatang, Pemkab bisa memberikan dukungan fasilitas demi perkembangan perfilman,” tambahnya. Read the rest of this entry »

Belum lama mendapatkan penghargaan Video Klip Terbaik dalam ajang Jember Film Festival (J-FIVAL 2008), Sangkanparan kembali mendapatkan penghargaan dalam ajang Festival Film Telepon Genggam Tegal (FFTGT). Festival yang mengkhususkan pengambilan gambar dengan menggunakan media ponsel ini, baru pertama kali digelar oleh Cipta Jagad’t – Tegal Film Community. Meskipun festival ini sederhana dan belum banyak pihak yang memberikan dukungan, namun keseriusan mereka untuk memberikan sumbangsih dalam mewarnai perubahan di negeri ini patut dihargai.

Mereka berpendapat, bahwa nantinya teknologi akan semakin maju, dan masyarakat Indonesia mau tidak mau harus bisa mengikuti perkembangan tersebut.

“Bayangkan saja, kesibukan orang semakin tinggi. Pagi berangkat kerja, malam pulang, kemudian istirahat. Dengan teknologi ponsel, orang kan bisa menikmati video disaat ia  berada dalam perjalanan” ungkap Kelvin seorang mahasiswa IKJ yang sekaligus sebagai panitia FFTGT 2008. Read the rest of this entry »

Jaringan Kerja Film Banyumas

Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) adalah lembaga asosiasi komunitas film di eks-karisidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Visi JKFB adalah menjadi lembaga fasilitator dan mediator dalam mengembangkan serta memajukan kegiatan perfilman di eks-karisidenan Banyumas melalui program kegiatannya. Misi JKFB adalah melakukan kerja kolektif serta jaringan dalam berbagai aspek yang dapat memajukan kegiatan perfilman di eks-karisidenan Banyumas.

c

Blog Stats

  • 20,141 hits