Home

GAUNG kebangkitan film nasional rupanya merambah sampai ke Purwokerto. Setiap malam minggu, penikmat film bisa memilih tempat kumpul bareng. Salah satunya, pada gelaran pemutaran film dan diskusi yang dihelat Komunitas Suka Nonton (KSN) di Fisip Unsoed, Sabtu (13/5) lalu.

Berbeda dengan pegiat film lain yang menjamur di kota Purwokerto dan sekitarnya, KSN memilih film yang berisi tema-tema sosial. Malam minggu kemarin, KSN memilih film berjudul ”Jual Beli Perempuan dan Anak” hasil produksi Jurnal Perempuan di Jakarta. Alhasil, berbeda dengan anak muda umumnya yang melewatkan malam minggu dengan sukacita, penonton film pilihan KSN justru disuguhi adegan-adegan yang membuat sembab bulu mata.

”Ih…”, seru-serang peserta sembari memalingkan muka dari layar lebar. Film berdurasi 45 menit ini menampilkan hasil penelusuran kasus-kasus jual beli perempuan dan anak di Kalimantan dan Batam ke Malaysia. Penuturan langsung pengalaman korban menyentak penonton yang kebanyakan berstatus mahasiswa. ”Kok ada ya?,” ucap Ria, masygul.

Salah satu adegan menuturkan kisah Laras, gadis berumur 14 tahun yang saat ini ”bekerja” di salah satu rumah bordil di Malaysia. Ia dijebak oleh agen penyalur tenaga kerja, dijual kepada ”mommy” dan selanjutnya hidup terpenjara di rumah bordil. Ketika ia terkena sakit kelamin jengger ayam, ia membakar sendiri kelaminnya sampai jengger tersebut mati. ”Sakit sekali,” katanya.

Surtini Hadi, aktivis Perkumpulan Kantor Bantuan Hukum (PKBH) Purwokerto mengatakan perdagangan manusia memang sering merayu korban melalui tawaran pekerjaan di luar negeri dengan hasil menggiurkan. Dari pengalamannya, saat ini bahkan pelajar sekolah menengah dirayu dengan diberi HP mewah untuk dicicil. ”Setelah terjerat hutang dan mereka tidak bisa mengembalikan, mereka dipaksa menjadi pekerja seks,” katanya.

Anak perempuan yang dijual keluarganya sendiri untuk menutup hutang juga bukan hal baru. ”Hari gini cerita manusia menjual manusia tetap ada,” katanya. Sementara Rancangan Undang-Undang Anti Perdagangan Manusia saat ini ada di urutan 101 untuk dibahas DPR.

Pemerhati sosial, Dhani Armanto melihat Banyumas dan Cilacap rawan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, termasuk jual beli manusia. Apalagi Banyumas merupakan daerah ”pengekspor” manusia yang besar. ”Sayangnya, data pasti sulit dibuat selain harus turun langsung ke desa,” katanya. Ini karena, pemalsuan dokumen sudah lazim terjadi. Apalagi dari penelitiannya, agen penyalur tenaga kerja ilegal mendapat sokongan dari kekuatan politik.

Salah satu pegiat KSN, Didik Ari Prasetyo mengungkapkan, tema-tema sosial memang menjadi pilihan alternatif tontonan film. ”Melalui film, kami ingin membuka wawasan penonton,” katanya. Ini merupakan kelanjutan dari pemutaran serupa yang juga digelar di Jakarta, Bandung dan Surabaya.*

(Sigit Harsanto. Harian Suara Merdeka, Mei 2006)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s