Home

”Padane inyong bisa jadi sutradara…,” kaya kuwe angan-angane Ropinah. Angan-angan kuwe wajar mbokan?

SEBARIS kutipan tadi tercantum di lembar terakhir Buletin Bulanan Cinema Purbalingga Edisi Mei lalu. Ropinah, perawan desa yang menjadi salah satu penari kesenian Dames di Purbalingga, ingin membuat film tentang perjalanan hidupnya. Lewat buletin yang diterbitkan Cinema Lovers Community (CLC) yang mewadahi pembuat dan penikmat film pendek di Purbalingga, mimpi Ropinah dikatakan bisa digapai.

: Ropinah Berkisah, salah satu film besutan sutradara Bowo Leksono. (Dok. AFF)

Itulah salah satu cermin hobi baru yang sedang melanda anak muda di beberapa daerah di eks-Karesidenan Banyumas. Hobi tersebut adalah bergelut dengan dunia perfilman, khususnya film pendek. Tidak hanya monopoli anak sekolah, hobi ini juga melanda anak karangtaruna di dusun-dusun.

Salah satu pentolan pembuat film di Purbalingga, Bowo Leksono mengatakan, dunia film pendek sedang sangat ramai. ”Kalau di Purbalinga, paling ramai di sebelah utara atau sekitar Bobotsari,” katanya kemarin. Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, sudah bisa dikoleksi puluhan judul film.

Di Purbalingga, hobi ini mulai dikenal melalui produksi Laeli Film lewat “Orang Buta dan Penuntunnya” (2004). Film saduran dari salah satu cerpen Ahmad Tohari ini kemudian disusul oleh produksi film dari Beda Studio, Glovision Production, Sari Bhakti Husada Entertainment dan Cinema Variete. Bahkan salah satu karya Bochary Film yang bermarkas di Desa Majapura Kecamatan Bobotsari berhasil masuk 5 finalis ajang “Documentary Competition” 2005 yang diadakan Metro TV.

Sementara itu, kota Sokaraja juga tidak mau hanya identik dengan getuk goreng. Film-film komedi seperti Bawor (2003), Panah Asmara (2005) dan Pada Sebuah Kamar (2006) dibuat oleh sekelompok anak muda yang bernaung di komunitas Transindo Multimedia. Salah satu pegiatnya, Abdul Azis Firdauzi menyatakan, film menjadi pilihan untuk menunjukkan bahwa anak muda sekarang memiliki kemauan dan kemampuan mengespresikan dirinya. “Kami sedang mempersiapkan produksi baru untuk ikut festival film di Taman Ismail Marzuki di Jakarta,” katanya.

Bagaimana dengan Purwokerto? Film pendek diperkenalkan di tahun 2001 lewat karya Dimas Jayasrana berjudul “Kepada Yang Terhormat Titik Dua”. Selanjutnya, silih berganti komunitas film menyajikan karyanya. Bahkan selama 4 tahun berturut-turut, Purwokerto sempat memiliki ajang festival film pendek bernama Pesta Sinema Indonesia (PSI). Film pendek internasional, nasional dan lokal diputar di acara tersebut.

Baturraden juga tidak mau kalah. Acara peringatan kemerdekaan RI ke-60 di Dusun Karangnangka Desa Kedungbanteng Kecamatan Baturraden sempat diwarnai isak tangis gara-gara film pendek. Pasalnya, karangtaruna setempat membuat film berjudul “19 Empat Toedjoeh” (2005). Film besutan pemuda setempat, Wasis Setya Wardana, ini mengangkat kembali kesaksian salah satu tetua kampung tentang masuknya Agresi Militer II ke Dusun Karangnangka.

“Penduduk pada nangis, terharu,” ujar Gatot, pembuat film asal Sokaraja yang diminta membantu produksi film pendek kolosal tersebut. Dibilang kolosal karena penduduk sekampung ikut terlibat menjadi pemain figuran dalam film berlatar peperangan tersebut. Gatot di kota Purwokerto juga dikenal lewat salah satu film komedi yang digarap La Cimplung Productions berjudul “Superheru” (2005). Film ini laris diputar di berbagai acara pemutaran film pendek.

Bukannya surut, keramaian membuat film ini justru semakin meningkat. Sederetan judul film pendek terus bermunculan. Apalagi, seperti dikatakan Bowo Leksono, saat ini hampir semua sekolah sudah memiliki peralatan untuk membuat film. Tak puas hanya diputar di kotanya sendiri, mereka juga memutar film karyanya di kota-kota lain, tak terkecuali mengikuti festival film pendek di kota besar. Sambutan semacam ini barangkali menunjukkan orang muda memerlukan ruang untuk mengasah kreatifitasnya.*

(Sigit Harsanto. Harian Suara Merdeka, Mei 2006)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s