Home

SETELAH pada Maret yang lalu dua buah film mendapat tempat sebagai film kehormatan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam rangkaian Bulan Film Nasional 2007 di Jakarta, sebanyak lima buah film karya sineas muda Banyumas dipastikan tampil dalam ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2007.

Kelima sutradara, yang sebagian di antaranya baru menapaki jagad perfilman, membuat karya dalam satu program bertajuk Pakem Project yang difasilitasi oleh Arisan Film Forum (AFF), setahun lalu. Film Angel (durasi 05:16 menit) karya Jukie Mulyasari, Kejar Joni (09:38) / Nyaman Agung, Nol (08:26) / Dimas Herjun, Laporken Kenapa (19:03) / Basuki Rahmat, dan Jiejiek (09:43) / Ratih Paramithasari, menjadi bagian dari sesi acara “Bioskop Pasar Seni FKY” dan bakal disuguhkan ke hadapan publik penonton di Gedung F Benteng Vredeburg mulai tanggal 9 Juni-5 Juli mendatang.

Programer AFF, Bayu Kesawa Jati, dan Hanung Herdianto sebagai Pusat Data dipastikan memberikan presentasi mengenai konsepsi film dan perkembangan film di Banyumas pada 22 Juni mendatang. Sementara kelima sutradara hingga kemarin belum dapat dipastikan turut serta ke Yogyakarta.

Menurut Bayu, kelima film itu dipilih karena mewakili salah satu aspek kedahsyatan film pendek, yakni mampu menggunakan ide-ide sederhana dan konsepsi main-main untuk menyampaikan kritik sosial. “Siapa yang menyangka, bahwa ternyata Nicholas Saputra memiliki masalah dengan bau badan? Atau Marianna Renata yang doyan menjajakan tubuhnya. Kelima karya ini mampu berbicara realitas sosial, tanpa harus jatuh pada wacana menara gading,” jelasnya.

 

: Bayu Kesawa Jati. Programer AFF. (Dok. JKFB)

Ya, Pakem Project memang mengharuskan para pengkarya untuk memakai potongan gambar dan musik curian dari film-film Indonesia komersil, tanpa batasan tahun. Durasi waktu yang singkat dan terbatas justru harus dimanfaatkan untuk menyampaikan ide cerita dengan sepadat mungkin.

“Dengan memadukan ide kreatif dan kenakalan secara visual, siapapun yang berniat untuk membuat karya akan berpikir serius. Jadi, main-main bukan berarti tak serius. Main-main lebih mengacu pada bagaimana para filmmaker mengeksekusi ide ke dalam bahasa visual yang mudah dicerna dan kena untuk publik secara luas,” imbuhnya.

Kekuatan ide dan visualisasi karya film ternyata tak terpengaruh oleh status kota besar atau kota kecil. Film-film yang terkompilasi dalam Pakem Project menjadi acuan. Bayu menjelaskan, “Pengakuan dalam dunia seni adalah melalui karya masing-masing bidang. Filmmaker ya bertugas memproduksi karya, dalam hal ini film. Bahwa ternyata karya film dari Purwokerto, Purbalingga, dan Cilacap mendapat apresiasi bagus di tingkat nasional, itu hanyalah konsekuensi dari komitmen berkesenian mereka.”

Selain itu, proses produksi film bersama ternyata mampu menunjukkan betapa komunitas film harus memiliki program yang jelas dan manajerial karya yang bagus.

“Arisan Film Forum bukan kelompok produksi, melainkan lebih pada manajerial karya. Pemutaran film, fasilitasi project, pusat data dan distribusi menjadi bidang garapnya. Apa yang kami tawarkan pada para sineas muda Banyumas adalah konsepsi yang ringan, terkesan main-main namun tetap berbobot. Dan jangan lupa, biaya penggarapannya pun harus irit alias low-budget,” terangnya sembari tersenyum simpul.*

(Sigit Harsanto, Suara Merdeka. Senin, 11 Juni 2007. Isi tulisan diperlengkap, tanpa mengubah inti.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s