Home

Oleh: Dimas Jayasrana

PERMASALAHAN distribusi serta eksebisi alternatif (non-bioskop) mungkin selama ini sudah berulang kali dibahas di berbagai ruang diskusi. Namun rupanya hal tersebut belum begitu banyak mendapatkan respon karena selama ini para filmmaker indie (maaf kalo pake term “indie” lagi) masih lebih fokus pada hal produksi. Ruang-ruang seperti festival film, utamanya yang ada di dalam negeri masih jadi ruang andalan eksebisi sekaligus distribusi. Adapun pemutaran film di kampus-kampus yang sifatnya temporer, juga masih jadi ruang andalan selain festival film (yang juga sifatnya temporer).

Pentingnya sebuah distribusi bagi karya-karya tersebut yang menjadi poin utama adalah ketika kita melihat adanya berbagai masalah, terutama akses yang cukup menjadi hambatan bagi distribusi karya tersebut. Utamanya permasalahan ruang bagi karya tersebut yang bisa dikatakan “terbatas” sehingga belum dapat dikatakan karya tersebut sudah tersosialisasikan kepada publik luas.

Mira Lesmana mengatakan bahwa yang menjadi hal utama yang harus diperhatikan adalah, motif si filmmaker sendiri dalam membuat filmnya. Untuk apa dan untuk siapa film/karya itu dibuat. Ini menjadi hal yang harus dijawab untuk pertama kalinya. Hal tersebut amat mendasar untuk diperhatikan, menurutnya. Bila tidak diperhitungkan sejak awal, maka si filmmaker sendiri akan menemukan kesulitan bila ia dihadapkan pada permasalahan distribusi. Hal senada juga diungkapkan oleh Christiantowati. Pada kasus film “The Jakarta Project”, masalah distribusi tidak diperhitungkan sama sekali sehingga timnya menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya amat mendasar ketika mereka hendak mendistribusikan film tersebut ke khalayak luas.

Secara sederhana, menurut Mira Lesmana, distribusi adalah sebuah sistem bagaimana karya/produk sampai kepada publik. Sedang seorang distributor tugas utamanya adalah campaign & promoting. Perhitungan masalah distribusi itu harus sudah ada semenjak awal produksi (pra-produksi). Mencari partner (investor maupun funding), membaca/memetakan segmen, matang konsep serta manajemen, adalah poin-poin penting yang ditekankan oleh Mira. Penentuan skala bagi karya tersebut juga menjadi salah satu poin yang harus diperhatikan. Layar lebar-kah, TV, atau festival adalah pilihan skala bagi karya tersebut.

Christiantiowati sendiri menambahkan, perlunya seseorang yang khusus mengurus distribusi tersebut dalam tim produksi. Segala sesuatu yang berurusan dengan distribusi karya tersebut menjadi tanggung jawabnya, sehingga karya dapat terdistribusikan dengan baik. Berpaling pada pengalaman film yang ia tangani bersama kawan-kawannya, ternyata mengurus distribusi dengan cara “keroyokan” tidak cukup efektif.

Ada tiga hal dalam distribusi menurut Mira, yaitu; ruang, sistem, serta promosi. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi bila proses ini mau berjalan lancar. Mira juga mengatakan bahwa selama ini para filmmaker indie belum memikirkan/belum mempunyai konsep yang matang mengenai distribusi. Kalaupun ada, ruang dan sistemnya belum jelas. Inilah yang harus menjadi titik utama dalam membahas permasalahan distribusi.

Di lain pihak, para filmmaker indie yang hadir mengatakan, bahwa selama ini permasalahan tersebut sudah sering dibicarakan walau belum ada sebuah kesepakatan untuk membuat sistem yang matang. Sudah banyak strategi yang dilakukan oleh para filmmaker/komunitas film untuk memecahkan persoalan ini. Salah satunya adalah acara Pesta Sinema Indonesia (PSI) yang digagas oleh kawan MM Kine Klub Jogja dengan roadshow karya-karya yang mengikuti PSI ke berbagai kota antara lain: Purwokerto, Jakarta, serta Bandung. Metode tersebut dipandang cukup sukses sebagai salahsatu metode penyebaran karya (distribusi). Banyak pula usulan mengenai metode distribusi yang dapat dicoba. Antara lain distro yang diusulkan Erik dari Bandung, serta Simon dari KPP. Distro (Distribution Outlet/semacam toko) yang biasa dipakai oleh para pemusik undergorund untuk mendistribusikan kaset-kaset mereka ke berbagai daerah. Satu distro dengan yang lainnya saling terhubung dan bertukar informasi. Para filmmaker dapat menitipkan karyanya untuk dipasarkan dengan sistem konsinyasi. Atau ide lama yang kembali ditawarkan adalah bioskop alternatif sebagai ruang distribusi serta eksebisi sekaligus.

Sebuah bioskop alternatif dapat berperan ganda. Pertama sebagai ruang distribusi (semacam distro), kedua sebagai ruang eksebisi (layaknya bioskop) dan sifatnya kontinyu (tidak temporer). Bioskop alternatif ini bentuknya amat fleksibel, samasekali tidak harus berbentuk layaknya bioskop yang kita kenal selama ini. Bisa saja bioskop ini berbentuk ruangan 3×3 meter dengan tv 14 inch. Yang terpenting adalah kontinyunitas (fungsi) darinya.Namun dari kesemua tawaran tersebut muncul beberapa masalah, antara lain;

1. Dana
2. Manajemen
3. Infrastruktur
4. Hukum (etika)
5. Akses Informasi

Untuk 3 poin pertama bisa dikatakan permasalahan klasik. Artinya, hal tersebut sudah kita ketahui sebelumnya. Menurut Arfan dari UMM Kine Klub, dibutuhkan strategi matang untuk memecahkan tiga permasalahan utama tersebut. Bagaimana kita dapat menawarkan konsep yang matang kepada calon investor agar mereka tertarik untuk memberikan modal bagi persoalan distribusi ini. Atau bagaimana menyusun strategi untuk dapat bekerjasama dengan pihak-pihak yang dapat mendukung, seperti pemerintah daerah misalnya.

Untuk permasalahan hukum atau etika, memang perlu ada pembahasan yang lebih mendalam lagi. Aturan main seperti apa yang dapat diterima oleh semua pihak mengenai pendistribusian karya. Bagaimana agar tidak terjadi kesalahpahaman atau mengambil keuntungan secara sepihak dalam permasalahan distribusi ini. Aturan ini diharapkan dapat berlaku secara universal dan sifatnya win-win solution. Artinya si filmmaker pun tidak melulu berpikir tentang permasalahan profit belaka, namun lebih cendrung untuk bahu-membahu mengembangkan perfilman indie (istilah baru buat dunia film indie) ke arah yang lebih kondunsif.

Untuk poin terakhir, akses informasi jelas menjadi sorotan. Banyak pihak menyatakan, bahwa permasalahan distribusi dan eksbisi ini beserta segala metode untuk mencapainya telah menemui kesepahaman. Artinya, segala metode tersebut dengan 3 permasalahan klasik; dana, manajemen, serta infrastruktur, dapat dipahami. Namun akses informasi, dalam artian jalinan komunikasi antar lokus/komunitas rupanya memang belum terjalin dengan baik. Ruang-ruang komunikasi yang ada selama ini seperti mailing list (milis) belum dimanfaatkan secara optimal. Milis merupakan ruang komunikasi sebagai tempat pertukaran informasi masih dipandang sebagai ruang yang paling efektif dan efisien. Kita dapat memulai sebuah proses distribusi yang paling sederhana dari ruang milis tersebut.

Dari milis kita dapat menghimpun segala macam informasi dan membuat semacam database yang dapat berguna sebagai sumber informasi. Bila kita ingin bekerjasama dengan sebuah komunitas, kita dapat memanfaatkan database tersebut sebagai sumber informasi. Apa-apa saja yang kita butuhkan, serta kendala-kendala yang dihadapi dapat kita ketahui dari database tersebut. Tommy Taslim mengatakan bahwa selama ini, masih banyak komunitas yang masih enggan menggunakan milis sebagai ruang komunikasi antar komunitas. Padahal ruang tersebut dapat digunakan sebagai tempat sharing untuk mencari solusi bagi persoalan yang dihadapi, seperti kebutuhan akan infrastruktur misalnya atau bagaimana bekerjasama dengan komunitas lain untuk mengadakan pemutaran film. Lulu Ratna juga menambahkan, database dari tiap-tiap komunitas amatlah penting, di mana kita dapat saling belajar serta mengetahui kesulitan-kesulitan atau sebuah keberhasilan yang telah dicapai oleh komunitas tersebut sebagai sebuah bahan pembelajaran bersama.

Hal pertama yang harus kita lakukan untuk memecahkan persoalan distribusi serta eksebisi adalah memperkuat bangunan komunikasi antar komunitas. Milis masih menjadi pilihan utama sebagai ruang komunikasi yang efektif bagi pertukaran informasi. Dengan begitu, ketika bangunan komunikasi ini semakin kuat, diharapkan persoalan distribusi serta eksebisi ini dapat terurai satu persatu.*

Catatan Proses Obrolan Forum FilmSumbawa Room Hotel Indonesia 15-16 Oktober 2002Narasumber:Mira Lesmana (Produser, Miles Production) Christiantowati (Produser film Jakarta Project)

Purwokerto 25 Oktober 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s