Home

LIMA tahun berselang setelah film lokal pertama berjudul ”Kepada Yang Terhormat Titik 2” diputar di Purwokerto (2001), hobi membuat film sudah tidak asing lagi bagi anak muda. Kota Sokaraja menyusul dengan diputarnya film berjudul Bawor (2003). Sementara kehadiran film di Purbalingga ditandai dengan pemutaran film karya Laeli Leksono Films berjudul ”Orang Buta dan Penuntunnya” di tahun 2004. Kelompok pembuat film pun kemudian tumbuh bak cendawan di musim penghujan.

Purwokerto sempat memiliki ajang pemutaran film ”Pesta Sinema Indonesia” selama 4 tahun berturut-turut. Beragam film karya lokal, nasional dan internasional diputar untuk keperluan eksebisi. Film Banyumas juga tidak malu bertandang di festival tingkat nasional dan kemudian meraih sederet prestasi.

: Film Orang Buta dan Penuntunnya dianggap sebagai tonggak pertama lahirnya film pendek di wilayah Purbalingga. (Dok. AFF)

 

Bahkan hingga Jumat (29/9) kemarin, sudah 10 film dari Kabupaten Purbalingga yang memastikan mengikuti Festifal Film Indonesia (FFI) yang digelar di Jakarta. Jumlah yang tergolong besar tersebut hanya yang mendaftar melalui Cinema Lovers Community (CLC), sebuah perkumpulan komunitas film se-Kabupaten Purbalingga.

Pegiat CLC, Bowo Leksono saat dihubungi di tengah pengambilan film berjudul ”Celilian” di Desa Sikadut Kecamatan Bobotsari Purbalingga kemarin menyatakan, jumlah tersebut kemungkinan akan terus bertambah mengingat pendaftaran baru ditutup Selasa, 10 Oktober mendatang. ”Beberapa komunitas film anak SMA juga sedang dalam proses akhir pembuatan dan mereka kemungkinan akan ikut FFI,” kata Bowo.

Kejutan justru datang dari Kabupaten Cilacap yang selama ini sepi dari publikasi pemutaran film. Saat CLC Purbalingga bertandang untuk memutar film di Cilacap, nyatanya sudah 5 sekolah menengah yang memiliki ekstrakurikuler film. Padahal di Purwokerto dan Purbalingga belum satupun sekolah yang mengadakan ekstrakurikuler film. Gatot Artanto, seorang seniman film asal Sokaraja yang karyanya telah dapat di nikmati di Amerika Serikat mengakui, fenomena di Cilacap merupakan kejutan. ”Karena saya tidak pernah mendengar sebelumnya ada komunitas film,” katanya.

Di mata Gatot, pertumbuhan jumlah pembuat film di eks Karesidenan Banyumas dimungkinkan karena percepatan kemajuan teknologi. Peralatan pembuatan film yang paling sederhana sudah bisa dimiliki banyak orang. ”Kecintaan pada film butuh proses, sama halnya dengan pertumbuhan komunitas film. Saya melihat kemungkinan komunitas film akan terus bertambah di masa mendatang, dan sudah dibutuhkan semacam jaringan antarkomunitas film antarkota,” katanya.

Hal senada diakui Bowo Leksono. Diluar Purbalingga, sulit untuk mendata jumlah komunitas film karena tidak adanya jaringan antarkomunitas. Menurut Bowo, kondisi ini memprihatinkan karena jaringan menjadi salah satu kebutuhan vital bagi perkembangan film Banyumas. Lewat jaringan, selain sekadar informasi, para pegiat film bisa bertukar ilmu satu sama lain. “Keberadaan jaringan antarkomunitas antarkota akhirnya akan memajukan film Banyumas,” katanya.*

(Sigit Harsanto. Harian Suara Merdeka, September 2006)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s