Home

 1-blog.jpg

Berbarengan dengan penggelindingan wacana postmodernisme, realitas multikulur tak lagi sekadar hadir di ruang-ruang seminar. Film yang tadinya identik dengan ekspresi eksklusif masyarakat urban perkotaan diadopsi pula oleh masyarakat yang secara kultural “sangat” terpencil. Realitas itu dipermudah oleh teknologi digital yang makin murah dan beragam. Untuk membuat film, misalnya, orang hanya butuh satu handycam dan laptop. Dengan sedikit penguasaan teknik, film yang disimpan dalam cakram CD sudah bisa diputar dari dusun ke dusun, bahkan sampai ke Eropa.

Pada subkultur Jawa, seperti eks-Karesidenan Banyumas yang meliputi wilayah Cicalap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, sejak tahun 2001 sudah terdapat aktivitas komunitas penikmat dan pembuat film-film pendek. Bahkan, pada 7 Desember lalu, Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) membuat festival bernama Karnaval Film Pendek Banyumas. Di situ tidak saja ditampilkan film-film pendek lokal karya mereka, tetapi juga mendatangkan langsung film-film dari Eropa. “Kami impor langsung dari Eropa dengan maksud membuat perbandingan bagi pekerja film lokal,” ujar Direktur JKFB Sigit Harsanto, Kamis (13/12).

Harus pula diakui banyak festival film di daerah lahir setelah sekelompok pencinta dan pekerja film menggelar JiFFest tahun 1999. JiFFest ibarat anak kunci untuk membuka pintu, untuk merayakan keberagaman. Film- film yang tadinya dianggap “tabu” lantaran sistem monopoli, baik secara ekonomi maupun selera, tiba-tiba hadir di hadapan penonton.

Selain festival-festival yang bersifat “kedaerahan”, jaringan bioskop terbaru seperti Blitzmegaplex menyodok dengan mengadakan berbagai festival. Mereka menggelar Festival Film Korea dan Screamfest Indonesia, serta dalam waktu dekat menggelar festival film anak. Bahkan, Departemen Luar Negeri merasa perlu pula menggelar festival film. Pada 6-8 Desember 2007, menurut Direktur Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Umar Hadi, mereka menggelar Festival Film Asia Afrika.

Secara tidak langsung festival film membuat segmentasi pada tingkat konsumen. Dan itulah yang menurut Garin Nugroho menjadi ciri khas masyarakat dewasa ini. Komunitas menjadi begitu penting diperjuangkan, dipelihara, dan bahkan dipertahankan karena dalam komunitas itulah orang merasa bebas berekspresi tanpa merasa berbeda.

Dengan begitu, perayaan terhadap keberagaman sebagaimana yang telah dicapai sekarang adalah relasi-relasi dalam dan antarkomunitas untuk menyikapi perkembangan industri kebudayaan yang didorong teknologi digital dan medium ekspresi di tengah serbuan globalisasi yang dapat menyeragamkan selera. (IVV/DHF/IAM/YOP/CAN)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s