Home

Oleh : Sihar Sinomae

Saya mengikuti ‘kuliah’ Sandeep Ray, pegiat film asal India yang memilih jalur film dokumenter ketimbang Bolywood. ‘Kuliah’ berbahasa Inggris yang digelar di Benteng Vendeburg, Yogyakarta akhir pekan lalu itu memberi wawasan mengapa dokumenter menjadi menarik untuk ditekuni. Sandeep membuat dokumenter, termasuk untuk kepentingan pendidikan dan berbagai perusahaan (www.sandeepray. com).

Dia bisa bekerja bersama dalam sebuah tim produksi film. Namun sering dia menjadi sutradara, kameramen dan sekaligus editor film seorang diri. Gurun Kalahari di Afrika, Irak hingga dataran Australia dijelajahinya untuk mendapatkan tema-tema terbaik. Berikut petikan kuliah yang dirubah dalam format wawancanda.

Ini wawancanda. Karya yang sedang kamu garap saat ini?

Saya dari Kalimatan Timur, melihat Sungai Mahakam sampai persoalan kebakaran hutan. Namun saya baru saja mengambil keputusan untuk menyelesaikan film dokumenter yang saya buat selama 17 tahun terakhir. Bila saya teruskan kesenangan merekam kehidupan seseorang itu, saya tidak tahu kapan film itu akan jadi.

Dokumenter tentang apa itu?

Saya mulai mengambil gambar sejak tahun 1991. Tentang seorang anak muda yang bercita-cita menjadi seorang penulis terkenal di India, dan kini menjadi seorang guru. Ada keindahan dalam dokumenter, termasuk yang mengangkat hal-hal yang sekilas tampak biasa. Itu terutama pada setiap perasaan antarmanusia yang bisa direkam kamera.

Apa syarat seseorang yang mau berkarir di film dokumenter?

Kalau kamu punya ego tinggi, jangan terjun ke film dokumenter. Bagian paling tidak penting dalam film dokumenter adalah segala sesuatu tentang si pembuat film itu sendiri. Kalau kamu punya ego tinggi, tekan egomu. Kalau tetap saja tinggi, jadilah pembuat film fiksi, disana kamu bisa mengatur dunia semaumu.

Ini isu penting yang ditanyakan pegiat film dari Banyumas. Bisakah kita mengarahkan pemain seperti dalam produksi fiksi?

Ha,ha,ha. Isu itu terjadi dimana saja. Ketika saya memulai dahulu, saya tidak memikirkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam dokumenter. Saya mengambil gambar si penulis setiap hari, meminta orang lain berakting. (Sandeep melakukan ujicoba dengan memperlihatkan calon filmnya. Puluhan orang saat itu juga diminta menebak mana pemain yang berakting dan mana yang tidak. Separuh penonton gagal-Red). Tapi tentu tidak perlu ada script seperti di fiksi. Pada mulanya saya mengarahkan mereka, tapi lalu tidak karena justru ketika berakting, butuh banyak waktu agar mereka menjadi tampak alami.

Bagaimana kamu berhasil merekam dialog yang indah dan alamiah?

Itu dialog yang mereka gunakan sehari-hari. Setiap hari dialog hadir sendiri dalam kehidupan narasumber film. Kata kuncinya adalah relasi. Kamu harus menciptakan hubungan yang baik dengan subyek film. Hingga mereka mampu melakukan aktifitas dan berdialog seolah-olah tidak ada kamu dan kameramu. Ini rumusnya : get closer, get better. Semakin dekat (dengan subyek) , semakin baik.

Intinya, boleh mengarahkan pemain dalam produksi dokumenter?

Ada banyak wacana soal itu. Apalagi ini persoalan etik. Tapi saya termasuk menyukai yang alamiah, meski tidak terlalu ambil pusing dengan perdebatan itu. Yang penting adalah menampilkan kehidupan subyek yang saya angkat, itu fokusnya. Hasil akhirnya, terserah orang menilai, itu akan masuk genre dokumenter atau fiksi. Poinnya, buat film sajalah, jangan dibebani dulu dengan hal-hal semacam itu. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s