Home
ilustrasi pemutaran film

ilustrasi pemutaran film

Bikin film itu butuh darah dan doa, terutama film independen. Saya sendiri bukan pembuat film, hanya beberapa kali berkesempatan membantu produksi film, karena menurut saya sepertinya hanya sutradara yang layak diberi julukan itu. Meski begitu saya paham, bahwa jadi sebuah kebanggaan tersendiri jika film yang sudah susah payah dibuat itu ditonton, terlebih lagi disukai, oleh banyak orang.

Adapun, selain membantu produksi film, saya membantu sejumlah pemutaran film sebagai teknisi pemutar film sejak 1998. Saya percaya, salah satu cara agar film disukai penonton adalah ia harus diputar dengan baik, selain tentunya filmnya sendiri juga harus baik. Pada saat saya melakoni kegiatan ini, materi terbaik yang bisa kami dapatkan adalah kepingan VCD. Kualitas audiovisualnya terhitung cukup layak pada waktu itu, hanya saja pemutaran harus terhenti sejenak di tengah karena adanya penggantian kepingan. Meski proses penggantian kepingan tidak terlalu lama, tetap saja itu menyebalkan. Bandingkan dengan bioskop yang bisa mengganti gulungan film sampai enam kali dan proses penggantiannya tidak terlalu terasa. Semenjak itu, saya selalu tertarik untuk membantu pemutaran-pemutaran film selaku teknisi dengan harapan dapat membuat kegiatan menonton terasa lebih nyaman.

Pada pembukaan Festival Film Dokumenter 2013 di Yogyakarta kemarin, saya bertemu dengan Arief Akhmad Yani, pendiri komunitas Lensa Mata di Malang. Kami pun bincang-bincang ringan soal teknis pemutaran film yang perkembangannya tak sebaik perkembangan teknologinya sendiri. Mungkin hal-hal kecil seperti muncul kursor mouse di layar, logo program pemutar media, atau bahkan layar desktop pemutar tidak menjadi masalah buat penonton, tapi itu bisa memberi kesan bahwa penyelenggara pemutaran film terkesan tidak profesional. Satu hal yang sangat menyebalkan ketika penonton dipaksa menunggu hanya karena data film tak berhasil diputar, karena data film diambil dari harddisk eksternal dengan koneksi USB 2.0.

Sebagai teknisi pemutar film, saya mempunyai tanggung jawab untuk itu. Oleh karena itu saya ingin berbagi pengalaman saya selama menjadi teknisi pemutaran film. Catatan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya membantu pemutaran film. Ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam memutar film. Pertama adalah kualitas materi film yang diputar, kemudian kualitas tempat pemutaran. Sayangnya, tidak ada standar baku yang bisa saya jadikan patokan, sehingga saya memutuskan untuk membuat standar sendiri. Semoga bisa berguna bagi kita semua.

KUALITAS FILM

Saat ini hampir semua film dibuat dalam kualitas HD (high-definition). Mintalah pembuat film untuk mengirim dalam kualitas tingkatan itu. Semakin baik kualitas yang dikirim, maka akan semakin baik gambar yang dihasilkan. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah tidak semua format film cocok dengan semua alat pemutar. Semakin besar kualitas yang dikirim juga akan berimbas pada besarnya data, juga berimbas pada kemampuan alat pemutar. Meski alat pemutar yang akan kita gunakan dapat memutar data film tersebut, akan tetapi jika datanya terlalu besar maka akan mengakibatkan pemutaran film jadi tidak lancar, patah-patah, bahkan terhenti. Untuk itu, kita memperhatikan dan memastikan beberapa hal:

1. Gunakan format yang bisa diputar di semua alat pemutar. Dalam hal ini saya memilih format MP4 dengan codec H.264.

2. Perhatikan bitrate dan frame size. Untuk kualitas full HD, frame size yang dibutuhkan berukuran 1920×1080 dengan bitrate 32Mbps (mengikuti pengaturan yang ditentukan Adobe). Jika menggunakan pengaturan ini data akan menjadi sangat besar, sehingga menyulitkan jika dikirim melalui internet—disimpan disimpan dalam DVD juga belum tentu akan muat. Ada pula risiko film tak dapat diputar dengan baik. Terlebih lagi saat ini jarang sekali proyektor yang dapat memutar film dengan kualitas full HD kecuali untuk proyektor home theater. Pengaturan yang saya pilih kemudian adalah dengan frame size 1280×720 dan bitrate 6Mbps atau jika menggunakan Kbps menjadi 6000 Kbps (juga mengiktui pengaturan yang ditentukan Adobe). Jika dilihat dengan kasat mata tidak akan terlihat perbedaan yang signifikan, terlebih jika diputar di layar dengan resolusi di bawahnya. Perbedaan signifikan baru terasa apabila kita tinjau ukuran datanya—jadi jauh lebih kecil sehingga memudahkan proses pemutaran.

3. Sebaiknya hanya memutar dalam satu format saja. Meski alat pemutarnya sanggup memutar banyak format, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka sebaiknya hanya diputar dalam satu format, dengan pengaturan seperti yang sudah disebutkan. Permasalahan yang seringkali terjadi adalah para pembuat film biasanya tidak memiliki format yang ditentukan dan atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Jika terjadi seperti ini, berbaik hatilah melakukannya untuk mereka. Mintalah format terbaik yang mereka punya.

4. Beri waktu yang cukup untuk melakukan kontrol kualitas. Tenggat waktu yang diberikan kepada pembuat film untuk menyerahkan data filmnya jangan terlalu dekat tanggal pemutaran. Jika data yang dikirim tidak cukup layak untuk diputar, maka kita masih ada cukup waktu untuk menyiasatinya.

5. Periksa tingkat kekerasan suara. Seringkali tingkat kekerasan dari tiap film berbeda dengan film yang lainnya. Jika memungkinkan, minta pembuat film untuk mengatur ulang tingkat kekerasannya. Jika tidak, buat catatan dan lakukan pengaturan pada saat pemutaran.

6. Terakhir tapi tak kalah pentingnya, hilangkan bagian yang tidak perlu dari data filmnya. Dulu, dalam era analog, sebuah film biasanya diawali dengan beberapa informasi agar filmnya dapat diputar dengan baik. Seperti color bar, black bar, countdown, informasi film. Tujuannya agar film dapat diputar dengan standar teknis yang sama. Jadi kepentingan informasi itu hanya untuk teknisi pemutarnya saja, bukan untuk diputar dan dilihat oleh penontonnya. Jika perlu, minta kepada pembuat film untuk melakukannya. Jika pembuat film tidak bisa melakukannya, sekali lagi berbaikhatilah melakukannya untuk mereka.

Program yang paling baik untuk melakukan konversi data adalah Adobe Media Encoder. Program ini sebenarnya gratis, akan tetapi hanya dapat diinstal bersamaan dengan program Adobe lainnya macam Adobe Premiere dan After Effect). Jika ingin mencobanya, Adobe memberi kesempatan untuk mencobanya selama 30 hari gratis. Jika tidak, bisa menggunakan program Mpeg Streamclip. Program ini gratis dan tersedia untuk Mac dan Windows. Adobe Media Encoder lebih ramah untuk digunakan, sedangkan Mpeg Streamclip butuh ketelitian lebih dala penggunaannya. Jika kita melakukan konversi, ada baiknya kita melakukan deinterlace (mengubah field order jadi progressive) untuk mencegah gambar bergaris yang ditimbulkan pada saat konversi.

KUALITAS TEMPAT PEMUTARAN

Baik-buruknya suatu tempat pemutaran sesungguhnya berlandas pada dua unsur: kualitas ruang pemutaran dan kualitas alat pemutaran. Perihal ruang pemutaran:

1. Ruang yang ideal untuk pemutaran adalah ruangan yang sangat gelap. Jika menggunakan ruangan dengan banyak pintu dan jendela, maka hindari pemutaran pada siang hari. Jika waktu pemutaran tak dapat dihindari, maka hindarkan ruangan itu dari cahaya yang masuk. Gunakan segala cara untuk menutupi ruangan itu. Cara paling mudah adalah dengan menggunakan kain hitam, hanya saja perlu digunakan kain hitam yang sangat banyak agar cahaya tidak dapat masuk ke ruangan tersebut. Meski hitam, seringkali kain yang ada tidak cukup tebal untuk menahan cahaya masuk. Alternatif yang bisa digunakan adalah menggunkan karton atau kardus. Bisa juga menggunakan kain bekas yang biasa digunakan untuk digital printing. Pastikan tidak ada celah yang masih bisa ditembus oleh cahaya. Pastikan juga penonton masih bisa bernafas dalam ruang pemutaran.

2. Akustik ruangan juga perlu diperhatikan. Masalah ini biasanya teratasi jika ruangan dipenuhi banyak penonton. Untuk itu, cari ruangan yang sesuai dengan target penonton. Atau sebaliknya, cari kisaran jumlah penonton yang sesuai dengan besarnya ruangan.

3. Perhatikan akses keluar masuk penonton. Setiap kali pintu dibuka, maka akan ada cahaya yang masuk.

4. Perhatikan peletakkan alat-alat pemutaran. Jangan sampai alat pemutar menghalangi penonton ataupun penonton menghalangi alat pemutar.

Perihal alat pemutar:

1. Perhatikan teknis alat proyeksi dan pemutar film. Sebenarnya tidak banyak yang kita bisa perbuat pada faktor ini kecuali mencari alat terbaik yang bisa digunakan, tapi akan sangat membantu apabila kita paham karakteristik perangkat yang kita gunakan. Semakin baik alat yang kita bisa gunakan, maka semakin baik pula kualitas yang dihasilkan. Untuk proyektor, yang perlu diperhatikan adalah besarnya angka ansi lumens (seringkali hanya disebut lumens). Semakin besar layar, semakin besar ruangan, semakin tidak terang ruangan yang digunakan, semakin jauh jarak antara proyektor dengan layar, maka kebutuhan akan besarnya angka ansi lumens akan semakin besar. Cara menyiasatinya adalah dengan menggelapkan ruangan, mendekatkan proyektor dengan layar, dan menggunakan layar dengan ukuran yang lebih kecil.

2. Layar terbaik untuk pemutaran adalah layar perak. Silakan cari “silver screen” di Google maupun layanan pencari informasi lainnya.

3. Lakukan tes pemutaran. Semakin jauh dari tanggal pemutaran, semakin baik. Akan lebih baik lagi untuk melakukan tes sebelum ditentukan tempat pemutaran. Lakukan tes lagi sesaat sebelum pintu masuk dibuka. Lakukan gladiresik untuk pembukaan dan penutupan. Pastikan kita sudah memegang buku program dan sudah menyusun data film sesusai dengan program.

4. Gunakan piranti lunak (software) pemutar media yang baik. Alat pemutar yang baik adalah yang hanya memutar di layar proyekor apa yang perlu dilihat oleh penonton. Tidak ada kursor mouse terlihat, tidak ada logo alat pemutar, dan tidak ada jendela alat pemutar. Akan lebih baik lagi jika alat pemutar tersebut bisa mengubah urutan pemutaran bahkan ketika film sudah diputar. Dulu, kita bisa menggunakan fitur piranti lunak pemutar film untuk melakukan full screen preview di monitor kedua (hindari pengaturan proyektor dengan pengaturan mirror). Tapi entah kenapa hal itu dianggap sebagai pembajakan dan tidak lagi dibolehkan untuk digunakan sebagai fitur alat pemutar.

Piranti lunak yang bisa digunakan untuk pemutaran film adalah Screen Monkey. Piranti lunak ini sangat membantu agar kita dapat memutar film dengan ‘mulus’. Apapun yang kita kerjakan di monitor kita, penonton hanya akan melihat apa yang diputar dari playlist kita. Hebatnya lagi, alat pemutar ini bisa diunduh secara gratis. Tidak hanya memutar video dan audio saja, Screen Monkey juga dapat memutar data secara berulang-ulang (looping). Jadi kita tidak lagi mendapat gambar diam yang bisa membosankan ketika menunggu atau sekedar menjadi latar. Ketika ingin videonya terlihat interaktif pun juga sangat mungkin dilakukan dengan alat pemutaran ini. Misalnya kita ingin memutar cuplikan dari video yang disebut oleh pembawa acara, maka video akan langsung bisa diputar begitu pembawa acara menyebutnya. Tanpa jeda dan tanpa celah. Untuk alamat pengunduhan Screen Monkey dan cara instalasi serta operasinyanya, dapat dicari lewat Google. Silakan.

CATATAN TAMBAHAN

Beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan agar pemutaran bisa lebih lancar dan bebas dari kekhawatiran dan hal-hal janggal lainnya.

– Pastikan tidak ada notifikasi yang masih berjalan selama pengoperasian komputer untuk pemutaran (seperti notifikasi update maupun antivirus).

– Pastikan juga fungsi screen saver dan energy saver sudah dimatikan.

– Gunakan warna hitam sebagai background dari komputer kita, terutama untuk layar yang digunakan sebagai layar pemutaran. Jika sesuatu terjadi dan kita harus keluar dari alat pemutar kita, penonton hanya akan melihat gambar hitam. Ini juga untuk menghindari kemungkinan masih adanya celah setiap perpindahan film.

– Teruntuk dua poin di atas, bisa diatasi dengan membuat akun baru pada komputer yang digunakan dengan pengaturan yang disesuaikan dengan pemutaran. Sehingga pemilik komputer tak perlu repot dengan adanya perubahan pengaturan.

– Gunakan komputer dengan spesifikasi terbaik yang bisa digunakan. Yang perlu diperhatikan adalah besar kapasitas RAM dan kartu grafis. Sebaiknya gunakan komputer dengan minimum RAM 2GB dan kartu grafis terpisah atau dedicated (bukan onboard).

– Pastikan masih tersedia ruang yang cukup untuk menyimpan data-data film yang akan diputar, minimal untuk kurun satu hari pemutaran. Sebaiknya data film disimpan dalam harddisk internal untuk menghindari kemungkinan data gagal terbaca atau terbaca dengan lambat.

– Lakukan tes pemutaran untuk minimal satu program pemutaran. Gunakan layar monitor untuk menggantikan proyektor dan lakukan tes apakah komputer yang digunakan cukup layak untuk memutar tanpa ada kendala.

 – Minta waktu yang cukup untuk jeda antara program untuk mengatur ulang dan memeriksa program selanjutnya. Juga untuk memberi waktu istirahat yang cukup bagi perangkat-perangkat pemutaran, terutama proyektor.

 – Jika memungkinkan, siapkan satu komputer lagi untuk cadangan.

 Penulis: Ahsan Adrian

Sumber: http://cinemapoetica.com/sketsa/mari-memutar-film/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s