Home

JKFB
Jaringan Kerja Film Banyumas

Konteks Sejarah

JAWA sebagai wilayah dan kebudayaan, adalah definisi yang luas. Dia terdiri dari pecahan wilayah yang lebih sempit, yang membangun subkultur masing-masing. Subkultur Banyumasan merupakan varian khas yang menjadi karakter masyarakat di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara.

Dalam sejarahnya, tidak pernah ada satu kekuatan kerajaan yang mampu mendominasi nilai hidup warga setempat. Bahkan Belanda baru berhasil menerapkan sistem kolonial paska kekalahan Pangeran Diponegoro di tahun 1930. Itu artinya, Banyumas dijajah Belanda hanya selama 115 tahun.

Eksistensi subkultur Banyumasan, yang dalam banyak hal berseberangan dengan kultur dominan Jawa Kraton (Yogyakarta-Solo) kian terpojok dibawah narasi Orde Baru. Saat globalisasi kian terasa dampaknya, setidaknya mulai tahun 1990-an, Banyumasan justru bangkit untuk mencari kembali identitasnya. Dalam latar konteks seperti itulah, seniman film mengenalkan kategori Film Banyumas.

Sejarah Film Banyumas

Film telah diproduksi orang per orang jauh hari. Namun produksi yang lantas diikuti oleh kerja-kerja pemeliharaan komunitas film, baru diawali di tahun 1999. Saat itu, salah satu teater kampus Universitas Jendral Soedirman Purwokerto memiliki unit teater. Mereka menggelar eksebisi film.

Komunitas itu diikuti dengan kelahiran Youth Power. Sebuah kelompok kerja nirlaba lintas seni. Kelompok inilah yang melahirkan karya film perdana berjudul Kepada Yang Terhormat Titik 2 (2001) disusul kemudian ‘Surat Pukul 00:00” (2002). Selama 4 tahun berturut-turut, kelompok ini membuat parade film bertajuk ‘Pesta Sinema Indonesia’. Hasilnya, film menjadi pilihan cabang seni baru di kalangan anak muda dan seniman pada umumnya di Kabupaten Banyumas.

Komunitas film di Purbalingga dimulai oleh Laeli Leksono Film di tahun 2004. Mereka memvisualkan cerita pendek karya penulis Ahmad Tohari berjudul ‘’Orang Buta dan Penuntunnya”. Film ini menjadi yang pertama di Purbalingga yang sempat diputar di sekolah-sekolah, antarkampus, dan kantong-kantong budaya. Sempat pula nongol di TVRI Nasional Jakarta dan diikutkan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2004.

Sejak saat itulah anak-anak muda Purbalingga terus berkarya sampai sekarang. Mereka membuat film pendek atau yang dikenal sebagai film indie (independen) . Merebaknya komunitas film di Purbalingga menumbuhkan kebutuhan membentuk komunitas bersama. Maka pada 4 Maret 2006 terbentuk lembaga payung bernama Cinema Lovers Community (CLC) atau Komuinitas Para Pecinta Film di Purbaligga yang mendapat dukungan dari rumah produksi lokal, yaitu Laeli Leksono Film, Beda Studio, Bochary Film, Glovision Production, dan SBH Entertainment.

Awalnya, kegiatan CLC adalah mengadakan tontonan film dari berbagai jenis dan genre film terutama film-film alternatif untuk kemudian mendiskusikannya. Tontonan film digelar di Graha Adiguna (oproom) milik Pemerintahan Kabupaten Purbalingga yang terletak di komplek Pendapa Bupati Purbalingga. Saat terjadi pelarangan, pegiat film melakukan aksi keprihatinan. Aksi ini kemudian dijadikan film dokumenter dan sempat menyabet gelar film terbaik di Festival Film Dokumenter (FFD) 2006.

Sampai sekarang, Purbalingga terus menghasilkan karya baru yang digawangi rumah produksi dan pelajar sekolah menengah. Film-film mayoritas mengangkat tema lokal, termasuk menggunakan bahasa Banyumasan.

Film di Cilacap dimulai atas kiprah Komunitas Sangkanparan. Didirikan salah satunya oleh warga Cilacap di kota Solo tahun 2002. Tahun 2004, kembali ke Cilacap dan membuat film berjudul ‘Ciruyung’. Kelompok ini mengadakan pemutaran film ke desa-desa. Kelompok ini terus melakukan eksebisi di berbagai komunitas lokal. Selain itu mereka juga memfasilitasi remaja untuk berkarya, termasuk melalui media film.

Jaringan Kerja Film Banyumas

Kontak pertama pegiat film antarkabupaten terjadi saat Purbalingga dan Cilacap mengikuti Pesta Sinema Indonesia (PSI) di Purwokerto. Mencermati sejumlah potensi masing-masing daerah, dan kehendak untuk saling bekerjasama, di tahun 2006, komunitas film membentuk Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB). Kelompok itu dibentuk di Rumah Arisan milik Arisan Film Forum (AFF) Purwokerto tahun 2006.

Forum komunikasi yang dijalankan melalui perbincangan dalam mailing list serta pertemuan-pertemuan komunitas, berlanjut kepada program kegiatan kerjasama antar komunitas yang juga melibatkan organisasi-komunitas diluar forum.

Kurang dari satu tahun, target yang ditentukan oleh kelompok kerja JKFB yaitu jalinan komunikasi dan fungsi jejaring antarkomunitas, dirasa sudah dipenuhi. Mereka kemudian membuat rencana aksi yang lebih luas. Untuk keperluan itu, JKFB dirubah menjadi asosiasi film berbadan hukum Yayasan. Keputusan diambil melalui Temu Pegiat Film Banyumas di Bumi Perkembahan Munjuluhur, Purbalingga, Oktober, 2007.

Pembentukan asosiasi ini adalah salah satu strategi penguatan jaringan serta kerja bersama dalam mengatasi persoalan dalam kegiatan perfilman di Banyumas. Kerja-kerja utama dari asosisasi ini adalah menyediakan informasi (melalui program pustaka literatur dan film), jaringan, serta pendidikan (melalui program workshop, eksebisi, dsb).

Email: kepadajkfb@gmail.com
Weblog: https://jkfb.wordpress.com

Advertisements